Pages

Selasa, 29 April 2014

Makalah MODEL PENELITIAN FILSAFAT

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Filsafat Islam.
Masih ada beberapa perbedaan mengenai arti filsafat secara bahasa. Pendapat pertama menyebutkan filsafat berasal dari bahasa Arab, falsafah. Ini adalah pendapat Harun Nasution. Pendapat kedua, menyatakan bahwa terma filsafat berasal dari bahasa Inggris philo dan sophos. Philo berarti cinta, dan sophos berarti ilmu atau hikmah.  Pendapat ini kebanyakan dikemukakan penulis berbahasa Inggris. Pendapat ketiga menyatakan filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia.Philo berarti cinta, sophia berarti hikmah. Filsafat, falsafah, atau philosophia secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran.[1]
Selanjutnya kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama-yuslimu-islaman yang berarti patuh, tunduk, berserah diri, serta memohon selamat dan sentosa. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman dan damai.[2]  Kata Islam kemudian menjadi nama sebuah agama yang bersumber dari wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad melalui malaikat Jibril, Al Qur’an, serta Al Hadis.
Mengenai arti dari filsafat Islam, Musa Asy’ari  berpendapat bahwa filsafat Islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami.[3] Selanjutnya Damardjati Supadjar berpendapat bahwa dalam istilah filsafat Islam terdapat dua kemungkinan pemahaman konotatif. Pertama, filsafat Islam dalam arti filsafat tentang Islam yang dalam bahasa Inggris kita kenal sebagai Philosophy of Islam. Islma menjadi bahan telaah, objek material suatu studi dengan sudut pandang filsafat. Kemungkinan kedua, filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy, yaitu suatu filsafat yang Islami. Kebenaran Islam terpapar pada dataran kefilsafatan.[4]
Menurut pendapat Ahmad Fuad Al-Ahwani, filsafat islam ialah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.[5]
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui ciri-ciri filsafat Islam, yakni:[6]
1.      Dari segi sifat dan coraknya, filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis.
2.      Dari segi ruang lingkup pembahasannya, filsafat islam mencakup pembahasan bidang kosmologi, metafisika, kehidupan dunia dan akhirat, ilmu pengetahuan dan budaya, dll, kecuali masalah zat Tuhan.
3.      Dari segi datangnya, filsafat Islam sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri.
4.      Dari segi yang mengembangkannya, filsafat dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejarahnya, disajikan oleh orang-orang Islam.
5.      Dilihat dari segi kedudukannya, filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya seperti ilmu kalam, tasawuf, sejarah kebudayaan islam dan pendidikan Islam.

B.  Pertumbuhan dan Perkembangan Filsafat Islam.
Dalam sejarah dunia Filsafat, Yunani merupakan tonggak awal munculnya filsafat. Pemikiran filosuf masuk ke dunia Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli fikir islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Filsafat Yunani masuk ke daerah tersebut karena adanya ekspansi Alexander pada abad ke-4 sebelum Masehi, dalam bahasa Arab disebut Iskandar Zulkarnain. Alexander menaklukan negeri tersebut dengan membuat kebijakan politik untuk menyatakan kebudayaan Yunani dan kebudayaan Persia. Pengaruh dari kebijakan tersebut lahirlah pusat-pusat kebudayaan Yunani di timur, seperti Alexanderia di Mesir, Jundisyapur di Mesopotamia dan Bacha di Persia.
Pengaruh kebudayaan Yunani terhadap dunia Islam terlihat jelas pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Karena yang menduduki di pemeritah pusat juga berasal dari orang-orang Persia yang berkecimpung dengan budaya Yunani. Pada mulanya, para khalifah Bani Abbasiyah hanya tertarik pada ilmu kedokeran Yunani dengan cara-cara pengobatannya. Kemudian mereka juga tertarik dengan ilmu pengetahuan lain termasuk filsafat.
Filsafat Islam berkembang melalui beberapa fase, yaitu Fase Pertama adalah fase penerjemahan bagian yang menarik dari filsafat yunani ke dalam Bahasa Arab. Fase kedua adalah penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam Bahasa Arab yang berkembang pesat pada masa Khalifah Al-Makmun (813-833 M). Perkembangan tersebut ditandai dengan berdirinya lembaga penerjemahan yang bernama Baitul Hikmat yamg dikepalai oleh Hunain Ibnu Ishaq. Pada Fase ketiga muncul filosof-filosof besar seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Ghazali, Ibn Maskawih, ibn Bajjah, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd.[7]
Namun, bila dilihat dari sejarah peradaban umat Islam, munculnya pemikiran filsafat dalam dunia Islam merupakan gejala perkembangan keilmuan dalam masyarakat Islam sejak timbulnya agama Islam. Agama memberikan jawaban mengenai beberapa persoalan metafisika, Tuhan, jiwa dan manusia. Kemudian pengetahuan tentang hal itu dikembangkan dengan memadukan kebenaran wahyu dan akal. Hal tersebut yang memunculkan para filosuf Arab yang telah disebutkan diatas.

C.  Unsur-Unsur Metodologi Penelitian Filsafat
Metodologi penelitian filsafat memiliki beberapa unsur, antara lain:[8]
1.      Interpretasi, yaitu membuat tafsiran  yang bertumpuk pada obyek untuk mencapai kebenaran otentik.
2.      Induksi dan deduksi. Induksi adalah proses penalaran dari khusus ke umum. Deduksi adalah proses penalaran dari umum ke khusus.
3.      Koherensi intern, yaitu usaha memahami dengan benar guna memperoleh hakikat dengan menunjukkan semua unsur.
4.      Holistik, yaitu pandangan menyeluruh dan mendalam untuk mencapai kebenaran. Obyek dilihat dari interaksi dengan lngkungannya, sehingga diketahui identitasnya.
5.      Kesinambungan historis, yaitu pengalaman dan pemikiran manusia berkembang bersama lingkungan zamannya.
6.      Idealisasi, yaitu berusaha memahami kenyataan secara mendalam untuk memperoleh hasil yang ideal/sempurna.
7.      Komparasi, yaitu membandingkan kesamaan dan perbedaan dalam obyek penelitian sehingga obyek dapat dipahami lebih jelas.
8.      Heuristika, yaitu menemukan jalan baru secara ilmiah untuk memecahkan masalah.
9.      Analogikal, yaitu meneliti arti, nilai dan maksud yang diekspresikan dalam fakta dan data.
10.  Deskripsi, yaitu hasil penelitian harus dapat dibahasakan agar mudah dipahami, ada satu kestuan mutlak antara bahasa dan pikiran seperti antara jiwa dan raga.

D.  Model-Model Penelitian Filsafat Islam Berdasar Tokohnya
1.      Model M. Amin Abdullah
Dalam hasil penelitian untuk disertasinya yang ia tuangkan dalam bukunya The Ideal of Universality Ethical Norm In Ghazali and Kant, ia mengambil metode penelitian kepustakaan yang bercorak deskriptif. Dari segi pendekatan yang digunakan, Amin Abdullah mengambil pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparasi antara pemikiran kedua tokoh tersebut.
Dalam bukunya yang berjudul Falsafah Islam di Era Postmodernisme, Amin Abdullah menuliskan bahwa untuk melihat prospek pemikiran Islam di masa mendatang, dalam hubungannya dengan proses belajar-mengajar di fakultas tarbiyah, diperlukan telaah kritis-historis terhadap warisan khazanah intelektual Muslim untuk mencari benang merah serta titik singgung hubungan antara normativitas wahyu dan historisitas kekhalifahan.[9]
Penelitian yang polanya mirip dengan Amin Abdullah dilakukan pula oleh Sheila McDonough dalam karyanya berjudul Muslim Ethics And Modernity: A Comparative Study of The Ethical Thought of Sayyid Ahmad Khan and Mawlana Mawdudi.[10]
2.      Model Otto Horrassuwitz, Majid Fakhry dan Harun Nasution.
Dalam bukunya yang berjudul History of Muslim Philosophy, Horrassuwitz mengemukakan berbagai pemikiran filosofis, riwayat hidup, serta karya tulis dari beberapa tokoh filsafat seperti Al Kindi, Al-Razi, Al Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, Ibn Bajah, Ibn Tufail, Ibn Rusyd, dan Nasir Al-Din Al-Tusi.[11]
Dengan demikian jelas terlihat bahwa penelitiannya termasuk penelitian kualitatif. Sumbernya kajian pustaka. Metodenya deskriptif analitis, sedangkan pendekatannya historis dan tokoh.[12]
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Majid Fakhry dalam bukunya yang berjudul A History of Islamic Philosophy. Penelitiannya selain menggunakan pendekatan historis juga menggunakan pendekatan kawasan, bahkan substansi.[13]
Harun Nasution juga menggunakan pendekatan tokoh dan pendekatan historis. Bentuk penelitiannya deskriptif dengan menggunakan bahan-bahan bacaan. Penelitiannya bersifat kualitatif.[14]
3.      Model Ahmad Fuad Al-Ahwani
Ahmad Fuad Al-Ahwani adalah seorang pemikir modern dari Mesir. Dalam bukunya yang berjudul Filsafat Islam, ia menyajikan sekitar problem filsafat Islam, tentang zaman penerjemahan, dan filsafat yang berkembang di Masyriqi dan Maghribi berikut karya, jasa, dan pemikiran tokoh-tokohnya. Metode penelitian yang ditempuh adalah penelitian kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan pendekatannya adalah pendekatan yang bersift campuran, yakni pendekatan historis, pendekatan kawasan dan tokoh.[15]

E.  Model Penelitian Filsafat Berdasarkan Caranya
Macam-macam penelitian filsafat, antara lain:[16]
1.      Penelitian historis faktual.
a.       Model penelitian historis faktual mengenai tokoh.
Obyek penelitian materialnya adalah pemikiran seorang filsuf dalam suatu karyanya atau hanya satu topik dalam karya tersebut, atau pemikiran kelompok filsuf(mahzab) pada satu periode atau zaman. Yang diteliti adalah pandangan filsuf mengenai Tuhan, manusia, alam, dll.
b.      Model penelitian historis factual mengenai naskah buku.
Obyek penelitian materialnya adalah salah satu naskah atau buku filsafat klasik atau modern dalam perkembangan pemikiran seorang filsuf pada zamannya.
c.       Model penelitian historis faktual mengenai teks naskah.
Obyek penelitian materialnya adalah salah satu naskah atau buku filsafat klasik yang dipandang menurut teks harfiah. Teks yng diteliti adalah teks yang dipandang sedekat mungkin dengan penulis asli.
Pada ketiga model penelitian tersebut langkah awal dilakukan pengumpulan kepustakaan mengenai topik yang bersangkutan. Bahan dapat dicri pada buku umum(misal: sejarah filsafat) serta buku tematis (misal: filsafat manusia). Penelitian dilakukan dengan mengikuti alur pemikiran tokoh(filsuf) dari buku yang digunakan melalui unsur-unsur metode berpikir secara umum.
2.      Penelitian Konsep Sepanjang Sejarah.
Obyek penelitian materialnya adalah ide atau konsep yang muncul kembali dalam filsafat di sepanjang zaman, misalnya kebebasan. Konsep tersebut diambil seberapa jauh dapat dihubungkan dengan hakikat manusia dan pemikiran menyeluruh yang berkenaan dengan ontology, aksiologi, dll. Dimulai dengan pengumpulan kepustakaan, selanjutnya diteliti dengan metode secara umum.
3.      Penelitian Komparasi.
Membandingkan dua atau lebih pandangan filsuf, mengenai pandan satu aliran, maslah satu bidang(missal: etika) maupun pertentangn diantara keduanya dalam upaya mencari jalan keluar. Penelitian ini khususnya meneliti persamaan dan perbedaan.
4.      Penelitian Lapangan.
Penelitian dilakukan di suatu kelompok atau daerah, suku, bangsa maupun negara. Diselidiki tentang pandangan dasar yang melatarbelakangi suatu fenomena penting, misalnya struktur sosial, kebiasaan upacara, dll. Peneliti mengumpulkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh para sosiolog-antropolog. Hasil penelitian tersebut sebagai bahan mentah bagi peneliti untuk mengadakan refleksi sesuai dengan keahliannya dengan menggunakan unsur-unsur metois secara umum.
5.      Penelitian Sistematis Reflektif.
Membahas salah satu pokok masalah dalam kehidupan manusia yang cukup sentral, seperti hubungan agama. Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan refleksi pribadi mengenai hakikat kenyataan seperti yang dialami pribadi. Metode yang digunakan bukan metode yang digunakan secara umum dan masing-masing metode dikembangkan sendiri oleh seorang tokoh, seperti metode kritis(menurut Socrates dan Plato). Namun, tetap menggunakan metode berpikir secara umum dan penerapannya disesuaikan dengan Penelitian Sistematis Reflektif.



[1] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 15-16.
[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 254.
[3] Ibid., hal. 255
[4] Ibid,. Hal. 256
[5] Ibid
[6] Ibid., hal. 256-257
[7] Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009), hal.212
[8] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 42-48.
[9] Amin Abdullah, Falsafah Islam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hal.4
[10] Abuddin Nata, op. cit., hal. 260.
[11] Ibid, hal. 260-261.
[12] Ibid, hal. 261.
[13] Ibid, hal, 262.
[14] Ibid.
[15] Ibid, hal. 263.
[16] Sudarto, op.cit., hal. 95-125.

Makalah TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Pendidikan
Pengertian pendidikan dalam (UU SISIDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan, spiritual keagamaan, pengendalioan diri, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Menurut kamus bahasa Indonesia, kata pendidikan berasal dari kata “didik” dan mend.apat imbuhan pe- dan akhiran –an, maka mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan yang mendidik. Secara bahasa, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
B.            Pengertian Pendidikan Islam
a.       Pendidikan islam menurut Dr. Mohd. Fadil al-Djamaly ialah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrahnya) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).
b.      Pendidikan islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad al-Thoumy al-Syaebani ialah usaha mengubah tingkah laku individudalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan alam sekitarnya melalui proses kependidikan.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa proses kependidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinyasebagai makhluk individu dan social serta dalam hubungannya dengan alam sekitar. Di mana proses tersebut ada di dalam nilai-nilai Islami. Yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syari’ah dan akhlaq al-karimah.[1]
C.           Rumusan Tujuan Pendidikan Menurut Para Pakar
Upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan harus dilaksanakan semaksimal mungkin, walaupun kenyataannya manusia tidak mungkin menemukan kesempurnaan dalam berbagai hal. Adapun pendidikan Islam mempunyai tujuan sendiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Al-Qu’ran. Meski sumber gagasan perumusan tujuan pendidikan Islam sama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, para pakar pendidikan Islam membuat formulasi dengan redaksi yang tidak sama, meski substasinya sama.
a.    Ibnu Kaldun merumuskan bahwa  tujuan pendidikan Islam mencakup:
1.         Tujuan yang berorientasi ukhrawi yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah.
2.         Tujuan yang berorientasi duniawi yaitu membentuk manusia yang  mampu menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat.[2]
b.  Menurut  al-Ghazali, tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi:
1.         Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
2.         Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
c.    Menurut Abdur Rosyid, tujuan pendidikan Islam adalah:
1.    Mewujudkan insan yang mampu taqarrub pada Allah melalui pendidikan akhlak.
2.    Menciptakan individu yang memiliki pola piker yang ilmiah dan pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang dapat mengintegrasikan antara agama dengan ilmu serta amal saleh, guna memperoleh ketinggian derajat dalam berbagai dimensi kehidupan.
d.   Menurut Saleh Abdul Aziz  bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mendapat keridhoan Allah dan mengusahakan kehidupan.
e.    Menurut Athiyah al-ibrasyi bahwa tujuan pendidikan Islam adalah:
1.    Pembentukan akhlaq mulia
2.    Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
3.    Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatkan.   Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
4.    Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keingian untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekadar sebagai ilmu.
5.    mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga mudah mencari rezeki.
f.     Kursi Ahmad memberikan rumusan tujuan pendidikan Islam dengan redaksi berikut:
                 Education is mental physical and ,moral training and its aim to produce highly cultured men and women fit to discharge their duties as good human being and as worthy citizen of state.
                 “Pendidikan adalah suatu pendidikan mental, fisik dan moral ia bertujuan untuk menghasilkan pria dan wanita uang berkebudayaan tinggi, yang cakap melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai manusia dan warga negara yang berguna.”[3]
g.    Menurut hasil seminar se-dunia tentang pendidikan Islam di Islambad 1980 merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:
                 Education aims at the balanced growth of total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feeling and bodile sense. Education should, therefore, linguistic both individually and collectively and motivate all these aspect to ward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, community, and humanity at large.
                 “Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia srcara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya meliputi aspek spiritual, intelektual, imaginasi, fisik, ilmiah, linguistic, baik secraa individu, maupun secara kolektif disamping memotifasi semua aspek tersebut kea rah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan utama pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara luas.[4]
D.           Tujuan Pendidikan dalam Perspektif Filosofis
Tujuan pendidikan bila dilihat dari segi filosofis, maka tujuan pendidikan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu:
1.      Tujuan teoritis yang bersasaran pada pemberian kemampuan teoritis kepada anak didik.
2.      Tujuan praktis yang mempunyai sasaran pada pemberian kemampuan praktis terhadap anak didik.
Filsafat pendidikan yang bertugas menemukan hakikat problem pendidikan akan berakhir pada penemuan masalah praktis yang ditelusuri dari masalah-masalah teoritis. Walaupun, tidak semua masalah praktis dapat dipecahkan oleh filsafat pendidikan, namun ruang lingkup tugas filsafat pendidikan berada pada permasalahan teoritis dan praktis kependidikan.
Bila tujuan pendidikan Islam diformulasiakan atau dalam kata lain dirumuskan maka yang harus kita ketahui lebih awal adalah bahwasanya tujuan pendidikan Islam merupakan cita-cita ideal yang mengandung nilai Islami terhadap proses kependidikan.
Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari penyusunnya, baik secara institusiaonal maupun individual. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dicita-citakan oleh penyusun akan mewarnai corak kepribadian atau mempengaruhi corak kepribadian dari anak didik yang hasil dari proses kependidikan tersebut. Dan setiap rumusan tujuan yang kita peroleh, pasti akan berbeda substansi nilainya.
 Sebagai contoh, Indonesia merupakan bangsa yang berfalsafah Pancasila, dan menetapkan tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat membanngun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dari rumusan tersebut tampak jelas bahwa nilai-nilai yang dikembang-tumbuhkan terhadap pribadi peserta didik adalah nilai-nilai cultural bangsa Indonesia yang bercorak sosial-religius. Berbeda dengan Negara Amerika Serikat yang menjadi pelopor sistem demokrasi liberal di dunia yang mengetengahkan tujuan pendidikan serta memiliki efisiensi social dan kehidupan ekonomi yang bermutu. Sehingga jelas, bahwa corak rumusannya ialah agar manusianya terbentuk melalui proses pendidikan yang nantinya menjadi manusia yang berjiwa demokratis dan tata aturan.[5]
Dengan demikian tujuan pendidikan Islam ialah menanamkan makrifat atau kesadaran dalam diri manusia sebagai hamba Allah, dan kesadaran selaku anggota masyarakat yang memiliki tanggung jawab social serta menanamkan kemampuan manusia untuk mengelola , memanfaatkan alam ciptaan Allah sebagai kepentingan dan kesejahteraan manusia sebagai hamba Allah.
Jelaslah bahwa di dalam proses kependidikan yang dikehendaki oleh Islam, untuk mencapai tujuan akhir, nilai-nilai Islami akan mendasari dan member corak terhadap kepribadian anak didik pada masa dewasanya. Dengan kata lain, pendidikan Islam secara filosofis berorientasi pada nilai-nilai Islami yang bertujuan pada tiga dimensi hubungan manusia selaku “khalifah” di muka bumi, yaitu:
a.       Menanamkan sikap hubungan yang seimbang, selaras dengan Tuhannya
b.      Membentuk hubungan yang seimbang, harmonis dan selaras dengan masyarakatnya.
c.       Mengembangkan kemampuannya untuk mengelola dan memanfaatkan kekayaan ciptaan Allah sebai kesejahteraan untuk dirinya dan untuk sesamanya.[6]
E.            Kelebihan Tujuan Pendidikan Islam Dibandingkan Tujuan Pendidikan Non Islam
Menurut Hasan Langgulung, berbicara tentang tujuan pendidikan tidak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Sebab pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia.[7] Tujuan pendidikan sama dengan tujuan manusia. Manusia menginginkan semua manusia, termasuk anak keturunannya, menjadi manusia yang baik.[8]
Dengan menelaah formulasi tujuan pendidikan Islam dimuka dapat digarisbawahi bahwa terdapat dua sasaran pokok yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, yakni mewujudkan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Hal ini menggambarkan bahwa rancangan system pendidikan Islam dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan.
Secara rinci, sisi kelebihan tujuan pendidikan Islam dibandingkan dengan pendidikan non islam bisa di jelaskan sebagai berikut:
1)             Tujuan pendidikan Islam itu bersifat fitrah, yaitu membimbing perkembangan manusia sejalan dengan fitrah  kejadiannya.
2)             Tujuan pendidikan Islam merentang dua dimensi, yaitu tujuan akhir bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
3)             Tujuan pendidikan agama Islam mengandung nilai-nilai yang bersifat universal yang tak terbatas oleh ruang lingkup geografis dan paham-paham (isme) tertentu.[9]
Dilihat dari sudut pandang ini tujuan pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan umum yang didasarkan pada falsafah pendidikan produk pemikiran spekulatif dari nalar manusia. Kohnstam misalya, menggariskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membimbing anak mencapai tingkat kedewasaan rohani dan jasmani. Sedangkan Langeveld menyatakan bahwa tujuan pendidikan agar anak terbentuk kata hatinya.[10]
F.            Tujuan Pendidikan Islam Berdasar Komponen Sifat Dasar
Menurut Islam, dalam din manusia terdapat komponen-komponen sifat dasar (tabiat) yang berupa tubuh, ruh dan akal. Ketiga komponen ini memiliki hubungan sinergis dan integralis, artinya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tujuan pendidikan Islam perlu memperhatikan perkembangan tiga komponen itu secara terpadu dan harmonis.
Dengan menggunakan kerangka berfikir demikian,  Abdurrahman Saleh Abdullah mengklasifikasikan tujuan pendidikan Islam menkadi empat macam yang sama-sama mambutuhkan perhatian seimbang. Empat kelompok tujuan pendidikan Islam itu adalah sebagai berikut:
1.        Tujuan Pendidikan Jasmani (al- Ahdaf al- Jismiyah)
Dalam sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan untuk mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas kholifah dibumi, melalui pelatihan ketrampilan fisik. Beliau berpijak pada pendapat Imam nawawi yang menafsirkan “al-Qawi” sebagai kekuatan iman yang di topang oleh kekuatan fisik (Q.S. 2:247,8:60)
2.      Tujuan Pendidikan Rohani (Al-Ahdaf ar-Ruhiyah)
Pada sebagian aspeknya, pendidikan Islambertujuan untuk meningkatkan jiwa kesetiaan yang hanya kepad a Allah semata melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi saw, dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam Al-Quran (Q.S.3 :19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua (Q.S. 2:10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manusia secara individual dari sikap negative (Q.S.2:126). Inilah yang disebut dengan tazkiyah atau purifikasi dalam hikmah.
3.      Tujuan pendidikan Akal (al-Ahdaf al-‘Aqliyah)
Pada sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan mengarahkan intelegensi supaya menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah dan  menemukan pesan-pesan ayat-Nya yang membawa kepada keimanan kepada Allah. Tahao pendidikan akal ini adalah:
-            Pencapaian kebanaran ilmiyah ( ‘ilmu yaqien)
-            Pencapaian kebenaran empiris (‘ainul yaqien)
-            Pencapaian kebenaran metaempiris atau mungkin lebih tepatnya sebagai kebenaran filosofis (haqqul yaqien )
4.      Tujuan Pendidikan Sosial (al-ahdaf al-ijtima’iyyah)
Dalam sebagian aspeknya, pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian yang utuh baik roh, tubuh dan akal. Identitas individu disini tercermin sebagai “an-nas” yang hidup pada masyarakat plural.[11]
Dengan mengakomodasikan empat tujuan pendidikan di atas, pendidikan Islam akan bisa mengembangkan kepribadian peserta didik secara utuh. Ia bisa mengembangkan iman, cipta, rasa, dan karsa dan hati nurani.
G.           Tujuan Pendidikan Islam Sebagai Sebuah Proses
Pendidikan Islam sebagai sebuah proses memiliki dua tujuan, yaitu tujuan akhir (tujuan umum) yang disebut sebagai tujuan primer dan tujuan antara (tujuan khusus) yang disebut tujuan sekunder.[12] Tujuan umum hanya satu yaitu beribadah kepada Allah, untuk menegakkan syariat Allah. Ibadah menjadi tujuan penciptaan manusia. Manusia  tidak mungkin menegakkan syari’ah dalam sepanjang hidupnya dan Allah tidak membebani seperti ini, namun Allah membebani manusia dengan tugas lain, yaitu sebagai kholifah yang memelihara bumi.
Dalam proses kependidikan, tujuan akhir merupakan tujuan umum atau tujuan tertinggi yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan berbagai komponen tujuan yang akan dijadikan sarana untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Tujuan ini bersifat tetap, berlaku disegala tempat,waktu dan keadaan
Tujan akhir itu menurut kompleksitasnya, secara teoritis dapat dibedakan sebagai berikut:
a)      Tujuan Normatif merupakan tujuan yang harus dicapai berdasarkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang diinternalisasikan, misalkan:
1.      Tujuan Formatif yang bersifat memberikan persiapan dasar yang korektif
2.      Tujuan selektif yang bersifat memberikan kemampuan untuk membedakan hal-hal yang benar dan hal-hal yang salah
3.      Tujuan determinative yang bersifat memberikan kemampuan untuk mengarahkan diri kepada sasaran-sasaran yang sejalan dengan proses kependidikan.
4.      Tujuan integrative yang bersifat memberikan kemampuan untuk menterpadukan fungsi psikis (penyerapan terhadap rangsangan pelajaran pikiran perasaan kemauan ingatan dan nafsu) kea rah tujuan akhir proses kependidikan.
5.      Tujuan aplikatif yang bersifat memberikan kemampuan penerapan segala pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam pengamalan
b)      Tujuan fungsional, tujuan ini bersasaran pada kemampuan anak didik untuk memfungsikan daya kognitif, afektif dan psikomotor dari hasil pendidikan yang diperoleh sesuai yang ditetapkan. Tujuan ini meliputi:
1.    Tujuan individual yang bersasaran pada pemberian kemampuan individual untuk mengamalakan nilai-nilai yang telah diinternalisasaikan ked ala pribadi dalam rupa perilaku moral, intelektual dan skill
2.    Tujuan social yang bersasaran pada pemberian kemmpuan mengamalkan nilai-nilai kedalam kehidupan sosial, interpersonal interaksional dengan  ornag-orang dalam masyarakat
3.    Tujuan moral yang bersasaran pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai denga tuntutan atas dorongan motivasi yang bersumberpada agama, dorongan social dan dorongan biologis
4.    Tujuan professional yang bersasaran pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan keahliannya sesuai denga kompetensi.
c)      Tujuan operasional
Tujuan ini mempunyai sasaran teknis managerial yang meliputi:
1.         Tujuan umum atau tertinggi yang bersasaran pada pencapaian kemampuan optimal yang menyeluruh (integral) sesuai idealitas yang diingunkan.
2.         Tujuan intermediair yang bersifat sementara untuk dijadikan saran mencapai tujuan tertinggi.
3.         Tujuan partial yang bersasaran pada sesutau bagian dri keseluruhan aspek dan tujuan umum, yang berfungsi untuk memudahkan pencapaian tujuan umum.
4.         Tujuan incidental yang bersasaran pada hal-hal yang tidak direncanakan, akan tetapi hal-hal tersebut mempunyai kaitan dengan pencapaian tujuan umum. Tujuan ini bersifat lebih memperlancar pencapaian umum.
5.         Tujuan khusus yang bersasaran pada faktor-faktor khusus tertentu yang menjadi salah satu aspek penting dari tujuan umum yaitu memberikan dan mengambangkan kemampuan atau skill khusus pada anak didik sehingga mampu bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu yang berkaitan erat dengan tujuan umum. [13]
Tujuan antara pendidikan Islam merupakan penjabaran tujuan akhir yang diperoleh melalui usaha ijtihad para pemikir pendidikan Islam, yang karenanya terikat oleh kondisi locus dan tempus.[14] Tujuan ini dipengaruhi oleh perbedaan geografi dan kondisi perekonomian. Tujuan pendidikan menurut al-Qu’ran adalah mewujudkan manusia yang mengabdi dan shaleh, dan dalam mewujudkan manusia yang mengabdi dan saleh, ikut memberikan andil sekumpulan tujuan khusus seperti tujuan social dan intelektual dan lain-lain. Tujuan khusus bersifat relative sehingga dimungkinkan untuk di adakan perubahan dimana perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan selama tetap berpijak pada tujuan umum.
Terdapat tiga hal yang menjadi dasar penyusunan tujuan khusus pendidikan Islam:
a.       Kultur dan cita-cita suatu bangsa dimana pendidikan itu diselenggarakan
b.      Minat, bakat dan kesanggupan subjek didik.
c.       Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.[15]
Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani mencoba memperjelas tujuan antara dalam pendidikan Islam ini dengan membaginya dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut
Tujuan individual, yaitu tujuan yang berkaitan dengan kepribadian individu dan pelajaran-pelajaran yang dipelajarinya. Tujuan ini menyangkut perubahan-perubahan yang diinginkan pada tingkah laku mereka, aktivitas dan pencapaiannya, pertumbuhan kepribadian dan persiapan mereka di dalam menjalani kehidupannya di dunia dan akhirat
Tujuan sosial, yaitu tujuan yang berkaitan dengan kehidupan sosial anak didik secara keseluruhan. Tujuan ini menyangkut perubahan-perubahan yang dikehendaki bagi pertumbuhan, memperkayapengalaman dan kemajuan mereka di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Tujuan profesional, yaitu tujuan yang berkaitan dengan pendidikan sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi dan sebagai suatu aktivitas di antara aktivitas-aktivitas  yang ada di dalam masyarakat. [16]:



[1] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 14-17
[2] Zubaedi, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012), hal.31.
[3] Ibid., hal.33.
[4] Ibid., hal.35.
[5] M. Arifin., Op cit,. hlm. 129-131
[6] M. Arifin., Op cit,. hlm.133-134

[7] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1977), hal. 49
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi jasmani, rohani, dan kalbu memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 76
[9] Jalaluddin, Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: konsep dan perkembangan pemikirannya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 39
[10] Ibid
[11] Zubaedi,Op. Cit., hal.37.
[12] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 113
[13] M. Arifin.op cit. hal. 125-128
[14] Toto Suharto, op.cit., hal. 113
[15] Zubaedi. Op cit., hal.39.
[16] Ibid, hal. 111-112